WALHI JAWA TIMUR
0.00 ton diproduksi sejak Anda membuka halaman

Menguak
Persampahan
Jawa Timur

Sebuah perjalanan data untuk memotret kondisi nyata pengelolaan sampah di 30 kabupaten/kota. Setiap harinya, wilayah ini memproduksi lebih dari 14.319 ton sampah — dari mana ia datang, apa isinya, dan bagaimana ia dikelola.

Gulir untuk menguak
SCROLL ↓
30
Kab/Kota
14.319t/hari
Timbulan
6.552
Fasilitas
14.319 ton per hari 5,2 juta ton per tahun Surabaya memproduksi 12,6% dari total 46,3% adalah sisa makanan 67,8% berasal dari rumah tangga 6.552 fasilitas pengelolaan sampah
14.319 ton per hari 5,2 juta ton per tahun Surabaya memproduksi 12,6% dari total 46,3% adalah sisa makanan 67,8% berasal dari rumah tangga 6.552 fasilitas pengelolaan sampah
01 / Skala
Magnitude volume

Setiap hari, Jawa Timur
memproduksi setara
2.386 gajah dewasa
dalam bentuk sampah.

Angka 14.319,23 ton per hari mungkin terdengar abstrak. Namun ketika diakumulasi selama setahun, volumenya mencapai 5,2 juta ton — cukup untuk menimbun lapangan sepak bola setinggi hampir 520 meter.

Skala harian
0
ton sampah / hari
Timbulan tahunan 5.226.435 ton
Porsi Surabaya 12,6%
Porsi 5 Kota Besar 38,0%
Perbandingan Magnitudo Tahunan
Patokan
132m
Tugu Monas
Ikon ibu kota Jakarta.
Realita Jatim
522m
Tumpukan Sampah
Akumulasi tahunan Jawa Timur.

Tumpukan sampah tahunan Jawa Timur menjulang setara dengan 3,9 KALI LEBIH TINGGI dari Tugu Monas.

Kabupaten/Kota Timbulan Harian (t/hari) Timbulan Tahunan (t/tahun) Porsi (%)
02 / Distribusi
Sebaran spasial timbulan

Konsentrasi
di episentrum.

Surabaya adalah episentrum tunggal di Jawa Timur, menyumbang 12,6% dari seluruh provinsi. Peta interaktif ini menggambarkan sebaran geografis timbulan harian. Klik pada marker untuk melihat detail volume, sistem TPA, dan persentase sampah yang belum terkelola.

Filter Status
Cari Daerah
38 daerah
Awas >50% Belum Terkelola
Siaga 20% - 50%
Waspada <20%
Sumber: SIPSN KLHK 2025, OpenStreetMap
Kabupaten/Kota Timbulan (t/hari) Sistem TPA Terkelola (t/hari) Belum Terkelola (t/hari) Status
03 / Komposisi
Apa sebenarnya yang kita buang?

Hampir separuh
sampah kita adalah
makanan.

Mayoritas material ini sebenarnya bisa didaur ulang atau diolah menjadi kompos, namun karena tidak dipilah sejak sumbernya, semuanya berakhir tercampur dan dibuang ke TPA.

Catatan Data: Komposisi sampah dihitung berdasarkan laporan rinci 21 Kabupaten/Kota yang mengisi data di SIPSN KLHK 2025. Beberapa daerah tidak melengkapi data komposisi, namun tetap dihitung dalam total volume timbulan provinsi.
Komposisi Timbulan Sampah (SIPSN 2025)
Kabupaten/Kota Sisa Makanan (%) Plastik (%) Kayu/Ranting (%) Kertas/Karton (%) Lainnya (%)

* Tabel hanya menampilkan daerah yang melaporkan rincian komposisi sampahnya ke sistem SIPSN KLHK.

04 / Sumber
Dari mana asalnya?

Rumah tangga
adalah sumber utama.

Dari data 17 wilayah yang melaporkan sumber sampah, 67,8% berasal dari rumah tangga. Ini berarti kebiasaan memilah dan mengurangi sampah di tingkat dapur memiliki dampak paling masif terhadap keseluruhan sistem.

Pasar tradisional menyusul di posisi kedua dengan 11,6%, menyoroti urgensi modernisasi pengelolaan sampah pasar di Jawa Timur. Arahkan kursor ke grafik untuk melihat detail volume.

Distribusi Sumber Sampah (Hover untuk detail)
Sumber Sampah Persentase (%) Estimasi Volume (t/hari)
05 / Kontributor
Siapa memproduksi paling banyak?

Sepuluh wilayah,
satu masalah inti.

Surabaya sendirian menyumbang 12,6% dari seluruh timbulan Jawa Timur. Konsentrasi ini membuat intervensi di 10 wilayah berdampak pada lebih dari 60% masalah. Arahkan kursor ke grafik untuk melihat detail daerahnya.

10 Kabupaten/Kota dengan timbulan tertinggi
ton/hari
Rank #1

Kota Surabaya

1.811
ton sampah / hari
Porsi Provinsi12,6%
Timbulan Tahunan661.015 t
Rank Kabupaten/Kota Timbulan (t/hari) Porsi (%)
06 / Infrastruktur
Bertumpu pada 6.552 fasilitas

6.552 titik
pengelolaan sampah
tersebar di Jatim.

Secara kuantitas, fasilitas pengolahan di hulu seperti Bank Sampah (3.704 unit) sebenarnya mendominasi. Namun, besarnya jumlah unit tidak dibarengi kapasitas olah yang memadai. Akibatnya, beban timbulan harian tetap bertumpu pada 40 TPA yang ada. Klik kartu untuk melihat distribusinya.

Distribusi 6.552 Fasilitas Pengelolaan
Kabupaten/Kota Bank Sampah TPS3R Unit Komposting Sektor Informal Total Fasilitas

* Rincian fasilitas per daerah merupakan estimasi proporsional berdasarkan timbulan sampah dan data agregat provinsi SIPSN 2025.

07 / TPA & Risiko
Anatomi Tempat Pembuangan Akhir

Dominasi Open Dumping
adalah bom waktu.

Dari 40 TPA aktif di Jawa Timur, mayoritas masih menerapkan sistem Open Dumping (sampah ditumpuk begitu saja tanpa penutupan tanah harian). Praktik ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman ekologis dan keamanan yang nyata.

Tumpukan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana (CH4) yang sangat mudah terbakar. Dipadukan dengan cuaca panas dan gesekan material, TPA dengan sistem open dumping menjadi sangat rentan terhadap kebakaran besar yang sulit dipadamkan.

Distribusi Sistem Operasional TPA
Open Dumping ~60%
Sampah ditumpuk tanpa pengolahan
Controlled Landfill ~30%
Ditutup tanah secara berkala
Sanitary Landfill ~10%
Standar internasional dengan lapisan geomembran
Cari Kabupaten/Kota Berdasarkan Sistem TPA
Kasus Kebakaran TPA (Geser/Swipe →)
TPA Kab/Kota Waktu Luasan Pemicu Utama
08 / Solusi Palsu
Mitos Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

PLTSa bukan jalan keluar, melainkan jalan buntu.

Pemerintah kerap menawarkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai "solusi cerdas". PLTSa Benowo di Surabaya, yang beroperasi sejak 2021, dirancang mengolah 1.000 ton sampah/hari dengan teknologi gasifikasi (>600°C) untuk menghasilkan 12 Megawatt listrik. Namun, riset WALHI Jawa Timur secara tegas menyebut ini sebagai solusi palsu (false solution).

Alih-alih menyelesaikan masalah, teknologi pembakaran ini menciptakan masalah baru yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan warga dan lingkungan:

  • Menghasilkan Emisi Beracun: Pembakaran campuran sampah melepaskan partikel halus (PM2.5 & PM10), Dioksin, Furan, dan logam berat yang memicu kanker dan gangguan pernapasan.
  • Membunuh Ekonomi Sirkular: PLTSa membutuhkan volume sampah masif yang terus-menerus untuk menjaga operasional. Ini membunuh insentif untuk mengurangi, memilah, dan mendaur ulang.
  • Tidak Efisien Secana Energi: Kandungan air yang tinggi pada sampah Indonesia membuat PLTSa harus membakar batu bara tambahan untuk menjaga suhu, menjadikannya pembangkit batu bara terselubung.
Studi Kasus Temuan WALHI

PLTSa Benowo, Surabaya

Pemantauan kualitas udara berbasis komunitas (Nov 2024 - Jan 2025) membuktikan dampak langsung operasional PLTSa terhadap kualitas udara dan kesehatan publik:

Krisis Kualitas Udara Rata-rata PM2.5 mencapai 26,78 µg/m³ (Puncak >100 µg/m³). Melampaui Pedoman WHO 2021 (15 µg/m³) & Baku Mutu Nasional (55 µg/m³).
Dampak Kesehatan Parah Jan-Jul 2023 tercatat 174.222 kasus ISPA di Surabaya (>6.000 balita). Kontribusi polusi udara diperkirakan mencapai ~40% dari total kasus.
Pelanggaran & Transparansi Konsentrasi PM2.5 & PM10 melampaui baku mutu (UU 32/2009). Dokumen AMDAL dan hasil uji emisi ditolak akses publik dengan alasan "hak cipta", melanggar prinsip keterbukaan informasi.
Parameter Pedoman WHO 2021 (24 jam) Baku Mutu Nasional PP 22/2021 Hasil Pemantauan WALHI
"Membakar sampah sama dengan membakar masa depan. Kita menukar tumpukan sampah dengan udara beracun yang kita hirup setiap hari."
09 / Prognosis
Jika tren berlanjut...

Pada 2030, Jawa Timur
akan memproduksi
17.505 ton/hari.

Dengan laju pertumbuhan 4,1% per tahun — gabungan pertumbuhan penduduk dan konsumsi per kapita — proyeksi timbulan akan melampaui 6,3 juta ton per tahun dalam waktu kurang dari satu dasawarsa. Tanpa intervensi struktural, sistem pengelolaan yang ada akan kolaps.

Simulator Intervensi (Zero Waste)

Geser slider untuk mensimulasikan dampak peningkatan pemilahan sampah rumah tangga terhadap proyeksi timbulan tahun 2030.

Tingkat Pemilahan 0%
Proyeksi Timbulan 2030
17.505 t/hari
Reduksi Timbulan
0 t/hari

Catatan: Persentase mengindikasikan rasio sampah yang berhasil dipilah dan tidak tercampur ke TPA.

Proyeksi timbulan
2025 (Aktual)
14.319 t/hari
2030 (Proyeksi BAU)
17.505 t/hari
Skenario A · BAU

Business as Usual

Tanpa perubahan kebijakan, timbulan mencapai 17.505 t/hari pada 2030. Infrastruktur TPA jenuh total.

Timbulan 203017.505 t/hari
Pertumbuhan+21,8%
Skenario B · Intervensi sedang

Pemilahan + pengurangan

Wajib pemilahan rumah tangga, ekspansi bank sampah, larangan plastik sekali pakai di 10 kota besar.

Timbulan 203014.591 t/hari
Pertumbuhan+1,9%
Skenario C · Transformasi

Ekonomi sirkular penuh

Extended Producer Responsibility (EPR), insentif daur ulang, infrastruktur terdesentralisasi.

Timbulan 203011.612 t/hari
Pertumbuhan-18,9%
Tahun Data Historis (t/hari) Proyeksi BAU (t/hari)
10 / Aksi
Rekomendasi Kebijakan

Ubah kebiasaan,
bukan hanya TPA.

Mengelola sampah tidak bisa hanya dengan membangun TPA baru atau membakarnya. Diperlukan perubahan sistemik dari hulu ke hilir, di mana peran produsen, pemerintah, dan warga saling terhubung. Berikut adalah langkah-langkah strategis berbasis prinsip Zero Waste yang diperjuangkan WALHI.

01

Pilah dari Hulu

Karena 67,8% sampah berasal dari rumah tangga dan 46,3% adalah sisa makanan, pemilahan wajib di tingkat dapur dan pengomposan berbasis komunitas adalah intervensi paling masif dan berdampak langsung.

02

Tanggung Jawab Produsen

Penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) secara ketat. Produsen kemasan dan produk sekali pakai wajib bertanggung jawab atas daur ulang dan pengurangan volume sampah dari kemasan mereka.

03

Transparansi & Partisipasi

Pemerintah harus menjamin transparansi data pengelolaan sampah dan dokumen lingkungan (seperti AMDAL). Warga harus diberi ruang partisipasi yang aman (anti-SLAPP) untuk mengawal kebijakan lingkungan.

Lanjutkan eksplorasi

Bagikan data ini.

Semakin banyak yang memahami akar masalah, semakin besar dorongan untuk solusi yang sistemik.