Sebuah perjalanan data untuk memotret kondisi nyata pengelolaan sampah di 30 kabupaten/kota. Setiap harinya, wilayah ini memproduksi lebih dari 14.319 ton sampah — dari mana ia datang, apa isinya, dan bagaimana ia dikelola.
Angka 14.319,23 ton per hari mungkin terdengar abstrak. Namun ketika diakumulasi selama setahun, volumenya mencapai 5,2 juta ton — cukup untuk menimbun lapangan sepak bola setinggi hampir 520 meter.
Tumpukan sampah tahunan Jawa Timur menjulang setara dengan
3,9 KALI LEBIH TINGGI dari Tugu Monas.
| Kabupaten/Kota | Timbulan Harian (t/hari) | Timbulan Tahunan (t/tahun) | Porsi (%) |
|---|
Surabaya adalah episentrum tunggal di Jawa Timur, menyumbang 12,6% dari seluruh provinsi. Peta interaktif ini menggambarkan sebaran geografis timbulan harian. Klik pada marker untuk melihat detail volume, sistem TPA, dan persentase sampah yang belum terkelola.
| Kabupaten/Kota | Timbulan (t/hari) | Sistem TPA | Terkelola (t/hari) | Belum Terkelola (t/hari) | Status |
|---|
Mayoritas material ini sebenarnya bisa didaur ulang atau diolah menjadi kompos, namun karena tidak dipilah sejak sumbernya, semuanya berakhir tercampur dan dibuang ke TPA.
| Kabupaten/Kota | Sisa Makanan (%) | Plastik (%) | Kayu/Ranting (%) | Kertas/Karton (%) | Lainnya (%) |
|---|
* Tabel hanya menampilkan daerah yang melaporkan rincian komposisi sampahnya ke sistem SIPSN KLHK.
Dari data 17 wilayah yang melaporkan sumber sampah, 67,8% berasal dari rumah tangga. Ini berarti kebiasaan memilah dan mengurangi sampah di tingkat dapur memiliki dampak paling masif terhadap keseluruhan sistem.
Pasar tradisional menyusul di posisi kedua dengan 11,6%, menyoroti urgensi modernisasi pengelolaan sampah pasar di Jawa Timur. Arahkan kursor ke grafik untuk melihat detail volume.
| Sumber Sampah | Persentase (%) | Estimasi Volume (t/hari) |
|---|
Surabaya sendirian menyumbang 12,6% dari seluruh timbulan Jawa Timur. Konsentrasi ini membuat intervensi di 10 wilayah berdampak pada lebih dari 60% masalah. Arahkan kursor ke grafik untuk melihat detail daerahnya.
| Rank | Kabupaten/Kota | Timbulan (t/hari) | Porsi (%) |
|---|
Secara kuantitas, fasilitas pengolahan di hulu seperti Bank Sampah (3.704 unit) sebenarnya mendominasi. Namun, besarnya jumlah unit tidak dibarengi kapasitas olah yang memadai. Akibatnya, beban timbulan harian tetap bertumpu pada 40 TPA yang ada. Klik kartu untuk melihat distribusinya.
| Kabupaten/Kota | Bank Sampah | TPS3R | Unit Komposting | Sektor Informal | Total Fasilitas |
|---|
* Rincian fasilitas per daerah merupakan estimasi proporsional berdasarkan timbulan sampah dan data agregat provinsi SIPSN 2025.
Dari 40 TPA aktif di Jawa Timur, mayoritas masih menerapkan sistem Open Dumping (sampah ditumpuk begitu saja tanpa penutupan tanah harian). Praktik ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman ekologis dan keamanan yang nyata.
Tumpukan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana (CH4) yang sangat mudah terbakar. Dipadukan dengan cuaca panas dan gesekan material, TPA dengan sistem open dumping menjadi sangat rentan terhadap kebakaran besar yang sulit dipadamkan.
| TPA | Kab/Kota | Waktu | Luasan | Pemicu Utama |
|---|
Pemerintah kerap menawarkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai "solusi cerdas". PLTSa Benowo di Surabaya, yang beroperasi sejak 2021, dirancang mengolah 1.000 ton sampah/hari dengan teknologi gasifikasi (>600°C) untuk menghasilkan 12 Megawatt listrik. Namun, riset WALHI Jawa Timur secara tegas menyebut ini sebagai solusi palsu (false solution).
Alih-alih menyelesaikan masalah, teknologi pembakaran ini menciptakan masalah baru yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan warga dan lingkungan:
Pemantauan kualitas udara berbasis komunitas (Nov 2024 - Jan 2025) membuktikan dampak langsung operasional PLTSa terhadap kualitas udara dan kesehatan publik:
| Parameter | Pedoman WHO 2021 (24 jam) | Baku Mutu Nasional PP 22/2021 | Hasil Pemantauan WALHI |
|---|
Dengan laju pertumbuhan 4,1% per tahun — gabungan pertumbuhan penduduk dan konsumsi per kapita — proyeksi timbulan akan melampaui 6,3 juta ton per tahun dalam waktu kurang dari satu dasawarsa. Tanpa intervensi struktural, sistem pengelolaan yang ada akan kolaps.
Geser slider untuk mensimulasikan dampak peningkatan pemilahan sampah rumah tangga terhadap proyeksi timbulan tahun 2030.
Catatan: Persentase mengindikasikan rasio sampah yang berhasil dipilah dan tidak tercampur ke TPA.
Tanpa perubahan kebijakan, timbulan mencapai 17.505 t/hari pada 2030. Infrastruktur TPA jenuh total.
Wajib pemilahan rumah tangga, ekspansi bank sampah, larangan plastik sekali pakai di 10 kota besar.
Extended Producer Responsibility (EPR), insentif daur ulang, infrastruktur terdesentralisasi.
| Tahun | Data Historis (t/hari) | Proyeksi BAU (t/hari) |
|---|
Mengelola sampah tidak bisa hanya dengan membangun TPA baru atau membakarnya. Diperlukan perubahan sistemik dari hulu ke hilir, di mana peran produsen, pemerintah, dan warga saling terhubung. Berikut adalah langkah-langkah strategis berbasis prinsip Zero Waste yang diperjuangkan WALHI.
Karena 67,8% sampah berasal dari rumah tangga dan 46,3% adalah sisa makanan, pemilahan wajib di tingkat dapur dan pengomposan berbasis komunitas adalah intervensi paling masif dan berdampak langsung.
Penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) secara ketat. Produsen kemasan dan produk sekali pakai wajib bertanggung jawab atas daur ulang dan pengurangan volume sampah dari kemasan mereka.
Pemerintah harus menjamin transparansi data pengelolaan sampah dan dokumen lingkungan (seperti AMDAL). Warga harus diberi ruang partisipasi yang aman (anti-SLAPP) untuk mengawal kebijakan lingkungan.
Semakin banyak yang memahami akar masalah, semakin besar dorongan untuk solusi yang sistemik.